Sabtu, 19 Oktober 2013

berbagi pengalaman daftar jadi anggota KPU



Berawal dari sebuah pengumuman yang di ketahui lewat media elektronik (mbah google) tentang pendaptaran menjadi anggota KPU kabupaten majalengka, terlintas dibenak pikiran untuk mencoba menjajal pengalaman pada intansi formal yang berdurasi 5 (lima) tahun kontrak kerjanya tersebut.
Tepat di tanggal 28 september 2013 seseorang yang bernama ejen jaalussalam  bergegas untuk pergi untuk mendaftarkan  diri ke sekertariat dengan membawa persyaratan persaratan yang telah dilengkapi, al hasil pendaftaran diterima pada jam 8.30 wib dan alhamdulilah di beri nomor pendaptaran ke 1 (pertama) .
Pada tahap pertama , seleksi administrasi alhamdulilah lulus
Tahap kedua, pemeriksaan kesehatan yang di lakukan di rumah sakit umum daerah (RSUD) alhammdulilah GRATIS EUY  dibayar oleh Negara hahahahaha.
Pada tahap pemerikasaan kesehatan yang perlu di perhatikan adalah
1.       Berhenti merokok 2 (dua) hari sebelum pemerikasaan , karena nanti kita akan di foto menggunakan sinar X (rongsen) dan kalau yang suka merokok akan ketahuan bahwa rongga dadanya terpenuhi dengan asap rokok.
2.       Hindari Narkoba (Narik  Roko Batur) hahahaha , karena kita akan di ambil sampel darah.
3.       Hindari memakan makanan yang mengasilkan bau tidak enak seperti JENGKOL, PETAI/PETE , Karena akan di ambil sampel air kencing , biar kita tidak ketahuan suka jengkol hahahhahaahahaha dan yang paling penting takut dokternya pingsan karena menghisap bau jengkol hahhahahahahaaa.
4.       Pemeriksaan Mata (hindari kebiasaan buruk jangan sampai dokter memponis anda sebagai MATA PANCING ikan atau MATA JELALATAN.
5.       Pemeriksaan Kejiwaan yaitu dengan mengisi soal yang diberikan oleh dokter kalau enggak salah sebanya 400 (empat ratus) soal
6.       Pemeriksaan THT , kita akan di perdengarkan suara suara yang keras sampai ke yang terkecil
Tahap ketiga, Tes Tulis,  tes mengenai tentang kepemiluaan
Tahap ke empat, yaitu Psikotes , yaitu kita dihadapkan pada soal soal yang memerlukan kejelian, ketajaman dan kecepatan berpikir serta bertindak.
( WARNING SOAL PSIKOTES JANGAN DI DIBACA BERULANG ULANG CUKUP SEKALI KEMUDIAN JAWAB SESUAI DENGAN KEINGINAN HATI  )
soal pisikotes yang kemarin di kerjakan (WARTEEG, MMPI, ANGKA NUMERIK, VERBAL DAN GAMBAR)
Tahap kelima yaitu tahap wawancara
Sekedar berbagi aja dalam tes wawancara paling pertanyaan pertanyaan yang muncul pertama kali motivasi apa yang mendorong anda ikut daftar di KPU jawablah sejujurnya karena di sana kita akan terlihat KEJUJURAN DAN INTERGITAS KEPRIBADIAN KITA.
Mungkin itu aja dulu dan mohon doanya agar bias lulus untuk masuk tahap berikutnya

Minggu, 02 Juni 2013

Incumbent Vs Penantang telat


oleh :
ejen Jaalussalam
Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Majalengka tahun 2013 ini sudah memasuki tahapan pendaftaran. Dipredeksi empat pasangan bakal calon bupati (balonbup) bertarung memperebutkan kekusaaan. Di antara calon tersebut yang mendaftar ke KPU antara lain, Yeyet Rohayati-Sudirman (Yes) dari calon persorangan. Lalu, H. Abah Encang/Nazar Hidayat-H. Tio Indra Setiadi (Hati) yang diusung Partai Patriot dan PKS, serta didukung Partai Demokrat. Ketiga, pasangan petahana (incumbent) H. Sutrisno-H. Karna Sobahi (Suka) yang diusung PDIP, Hanura, Gerindra dan Nasdem. Keempat, Kolonel Apang Sopandi-Nasir (Sopan) yang diusung, PAN, PKB, Golkar, PPP, PKNU, PKPI, PKPB, PBB dan partai kecil lainnya.
Namun dari deretan nama balonbup tersebut, yang paling menarik  dikupas kekuatan dan kelemahan incumbent. Perlu diketahui, sejak pertama pemilukada digulirkan pada tahun 2005 lalu, hingga kini sudah ribuan pemilukada dilaksanakan di Indonesia. Harus diakui, mayoritas dimenangkan pihak incumbent. Bila dipersentasekan kira-kira mencapai 85%.
Lalu, pertanyaannya mengapa Pemilukada banyak dimenangkan incumbent? Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menganalisanya. Dari pengamatan penulis, ada beberapa faktor mengapa incumbent lebih mudah memenangkan Pemilukada di Indonesia.
Pertama, incumbent mengusai akses ekonomi. Dengan kedudukanya sebagai bupati atau walikota termasuk gubernur dengan posisi menjabat. Incumbent akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengusai akses ekonomi dibanding kandidat lain. Akses ekonomi itu memudahkan incumbent untuk mendapatkan dana pembiayaan kampanyenya. Bahkan sering kali incumbent kewalahan ketika banyak tawaran dari pihak-pihak yang akan memberikan suntikan dana. Dengan dana yang melimpah tersebut, tentunya pihak incumbent bisa melakukan beragam hal. Terlebih, tidak bisa dipungkiri, dana Pemilukada memang bukan segalanya, tetapi sangat penting keberadaanya.
Selanjutnya, kedua, incumbent mengusai akses sosial. Penguasaan terhadap akses sosial sangat penting karena akan mendongkrak tingkat popularitas dan elektabilitas. Sejak hari pertama incumbent dilantik, ia akan memiliki akses untuk bertemu dan berkunjung ke masyarakat. Tentunya keadaan ini dengan menggunakan fasilitasnya sebagai incumbent. Bahkan, incumbent bisa menghadiri acara atau bahkan menciptakan kegiatan untuk bisa bertemu dengan rakyat. Dan sudah menjadi rahasia umum, diduga kebanyakan incumbent selalu menggunakan dana APBD sebagai media kampanye dirinya. Dana itu dikemas sedemikian rupa untuk mewujudkan kepentinganya.
Ketiga, incumbent mengusai akses politik. Bila seseorang sudah menjabat sebagai bupati, walikota, atau gubernur, rasanya tidak susah untuk menguasi kursi pimpinan partai politik (parpol). Bahkan parpol lain berebut untuk menempatkan incumbent sebagai ketua partai. Bukan hanya itu, pada saat pencalonan Pemilukada, incumbent tidak akan repot mencari partai. Justru parpol yang datang berbondong-bondong menjadikan kendaraan politiknya. Dengan kemudahan akses politik semacam itu, incumbent bisa memilih mesin parpol mana yang memiliki dukungan luas di masyarakat atau tidak. Dengan segala kemudahanan tersebut, maka tidak heran bila sangat sedikit incumbent yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Tapi hanya incumbent yang "keterlaluan" yang kalah dalam Pemilukada. Dan kalau berbicara dari kaca pandang agama, takdir tuhan sangat menentukan apakah ia menang atau kalah dalam menduduki kursi kekuasaan.
Meski hal ini, harus diimbangi dengan usaha dan doa yang maksimal.

Penantang Telat
Bila menegok beberapa bulan kebelakang, Pemilukada di Majalengka sepi kandidat. Kalaupun ada, baru sebatas nongol di spanduk  atau baligo yang terpampang di sejumlah ruas jalan strategis. Itupun belum tentu jadi, bila melihat kualitas figur, popularitas, elektabilitas, serta kekuatan finansial yang ada di kantongnya. Kemunculan balonbup di Majalengka saat ini didominasi wajah-wajah baru, yang belum dikenal luas di kalangan masyarakat dengan potensi menang yang sangat tipis. Siapakah gerangan yang dimaksud, kita mungkin bisa menyaksikan baligo yang ada di sejumlah titik strategis di Majalengka. Pertanyanya, apakah ada orang yang mau nyalon bupati hanya sekedar iseng mencari keberuntungan dengan modal dengkul? Atau sekedar menghambur-hamburkan uang tak jelas? Kalau motifnya hanya ingin mencari popularitas dan memiliki bergaining position tentunya tempatnya bukan di Pemilukada. Kalau ingin terkenal, ya harus daftar menjadi artis. Sedangkan bila ingin diperhitungkan, harus dibuktikan dengan karya nyata, bukan ujug-ujug ada. Jadi, kalau berbicara keinginan, tukang parkir sekalipun ingin jadi bupati. Tapi karena keadaan, membuat semua itu hanya sebatas hiasan kata-kata.
Sehingga tidak terlalu berlebihan, bila sebagian masyarakat masih menilai bila calon yang ada di alat peraga masih patut dipertanyakan keseriusannya. Kondisi ini berbeda dengan calon yang memiliki kans yang besar. Misalnya, didukung partai, memiliki popularitas dan elektabilitas,  serta kantong yang tebal. Bila kriteria itu tercantum, maka calon tersebut patut diperhitungkan. Namun jika sebatas main-main, tanpa diimbangi potensi yang ada, hanya akan menguras energi dan membuang duit sia-sia.
Terlepas dari semua itu, setiap warga negara berhak mencalonkan diri, asalkan memenuhui persyaratan asalkan tidak melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Kita juga harus memberikan apresiasi atas keinginan menjadi kepala daerah, daripada tidak ada sama sekali.

Alasan Belum Ada
Ada beberapa analisa mengapa kondisi Pemilukada Majalengka 2008 berbeda jauh dengan tahun 2013 yang masih sepi kandidat. Pertama, para penantang masih berpikir keras dalam meracik strategi guna mengalahkan incumbent. Karena bila dilihat dari berbagai sudut pandang apapun, incumbent "SUKA" masih kuat di atas kertas mempertahankan kursi kekuasaanya. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat potensi dan peluangnya sangat besar. Lihat saja, dalam Pilgub Jabar kemarin, jagoan yang diusung Bupati Sutrisno menang mutlak dengan torehan suara mencapai 50 persen. Keunggulan ini bisa menjadi modal berharga sebagai kemenangan di Pilbup Majalengka.
Logikanya sederhana, calon yang diusung PDIP (Rieke) bisa menang, apalagi bila dirinya (Sutrisno) yang menjadi "pengantinnya"? Alasan itulah, kiranya sedikit banyaknya mempengaruhui penantang incumben, berpikir seratus kali menumbangkan Sutrisno. Meski kemenangan Rieke-Teten (Paten) bukan menjadi barometer, tapi harus menjadi gambaran kedepan, bila SUKA tidak boleh dianggap sebelah mata.
Kedua, alasan belum beraninya calon memproklamirkan diri melawan incumbent, karena minimnya anggaran yang dimiliki. Ongkos politik yang menelan anggaran Rp 20 Miliar minimalnya, membuat para penantang harus mencari sumber dana lain untuk menutupinya. Keadaan ini harus ditopang dengan figur yang benar-benar punya kantong tebal dan nilai jual di masyarakat. Karena tidak bisa dipungkiri, modal kampanye menjadi bagian vital yang tidak bisa dihindari oleh kandidat siapapun.
Apalagi ini kerja-kerja politik yang banyak melibatkan orang dan membutuhkan banyak pengeluaran. Singkatnya, hidup di dunia tidak ada yang gratis. Buang air besar dan kecil di tempat umumnya juga ada tarifnya. Faktor lain, sumber dana yang dimiliki para politisi maupun parpol di Majalengka mengalami penyumbatan yang luar biasa. Akibatnya, kucuran dana yang diharapkan menjadi modal kampanye, berakhir dengan gigit jari. Kalaupun ada, dalam rentang waktu yang tidak lama, Pemilu 2014 sudah di depan mata (modal nyaleg).  Amunisi yang ada terpaksa harus dibelah dua. Bila tidak, bisa mati sia-sia dengan menumpuknya hutang. Untung kalau menang, tapi kalah hanya sesek yang bakal mengendap di dada. Apalagi setiap kekalahan itu begitu menyakitkan, dan sulit diobati karena memakan waktu lama.
Persoalan besar ini menjadi ketimpangan bila dibandingkan dengan pasangan "SUKA". Namanya penguasa sudah barang tentu sudah menabung jauh-jauh hari untuk bekal perang selanjutnya. Modal kampanye itu bisa didapat melalui potensi yang ada, maupun saluran lainnya yang tidak mengikat. Apalagi penguasa juga bisa memanfaatkan uang rakyat (APBD), dengan menerlurkan kebijakan yang strategis dengan tujuan menarik simpati rakyat. Apakah pemanfaatan ini salah? tentu tidak, asalkan dibungkus dengan rapih dan tidak bertentangan peraturan hukum.
Pola semacam ini nyaris semuanya dilakukan para pemimpin kita yang tengah berkuasa dalam mempertahankan kedudukanya. Sumber modal kampanye incumben bisa didapatkan dengan menggerakan mesin birokrat atau kucuran dana dari kalangan pengusaha. Perintah penguasa sangat mudah digugu, bila tidak jabatan pejabat yang bersangkutan terancam. Bagi pengusaha jatah proyek menjadi taruhanya. Kerjasama saling menguntungkan inilah yang menjadi pertimbangannya.
Tapi sudah rahasia umum, namanya manusia, apapun profesinya, bila penguasa itu tumbang. Mereka akan berlari merapat ke penguasa baru. Tujuanya agar posisinya aman dan tidak di tendang ke daerah yang kering. Begitulah sikap para pecundang, bila tidak ingin beresiko.
Ketiga, alasan lainnya karena tidak ada figur yang memiliki nilai jual di masyarakat, bila diduelkan secara berhadap-hadapan dengan incumbent. Popularitas dan elektabilitas menjadi pertimbangan penting sebelum kanddiat di daftarkan ke KPU. Lemahnya semua itu, diduga membuat pucuk pimpinan parpol bekerja ekstra memecahkan kebentuan masalah tersebut. Hingga pada akhirnya dengan penuh keterpaksaan memunculkan calon seadanya. 
Beberapa pertimbangan itulah, yang menyumbat sekaligus menyita waktu pimpinan parpol. Mengapa mereka begitu lama menentukan jagoanya. Sekali lagi, keadaan ini berbeda dengan incumbent, yang lebih dulu gencar melakukan komunikasi massa, dengan terus membangun komunikasi bersama rakyat. Tatap muka melalui kegiatan pemerintahan dengan jabatan yang melekatnya sebagai kepala daerah.
Tragisnya lagi, kelemahan ini tidak disadari penantang incumben, bahwa memperkenalkan diri ke masyarakat dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang luas, tidak mungkin bisa dilakukan dengan waktu cukup tiga bulan? Ingat,popularitas mendekati sekali kepada elektabiltas. Tak kenal makanya tak sayang, begitulah pribahasa yang sering kita dengar. Maka dari itu, agar para penantang tidak terkesan mengibarkan bendera putih (tanda menyerah) lebih baik saat ini segera mengkrucutkan nama untuk diperkenalkan ke masyarakat luas. Semakin lama memberikan keputusan hanya akan melahirkan penderitaan. Usaha untuk bertarung memperebutkan kekuasaan, hanya berujung dengan kenistaan.

Calon Persorangan
Kehadiran calon perseorangan dalam perhelatan Pemilukada memunculkan berbagai pandangan dari masyarakat. Sebagian kalangan merasa khawatir dengan kehadiran calon perseorangan. Menurut mereka, kehadiran calon perseorangan akan merusak sistem demokrasi kepartaian di Indonesia. Kehadiran calon perseorangan dianggap bakal mengancam eksistensi parpol sebagai pilar utama sistem demokrasi di Indonesia. Dengan bahasa lain, kehadiran calon perseorangan adalah sebagai salah satu bentuk dari proses pengurangan peran parpol di Indonesia.
Sementara itu, sebagian kalangan yang lain menyambut gembira atas kehadiran calon perseorangan dalam Pemilukada. Kehadiran calon perseorangan ini justru dianggap sebagai salah satu solusi untuk memperbaiki sistem demokrasi yang telah dirusak oleh elit partai politik. Kehadiran calon perseorangan dianggap bisa mengurangi ekses negatif dari oligarkhi partai politik yang berlebihan. Kehadiran calon perseorangan ini juga dianggap bisa berdampak pada menurunnya praktik-praktik politik uang (money politics) yang terjadi dalam proses pencalonan di Pilkada.
Ditengah memburuknya citra partai politik di mata masyarakat, calon perseorangan yang maju dalam Pilkada sebenarnya memiliki kesempatan yang besar meraih simpati masyarakat dan memenangkan Pilkada. Tetapi mengapa sejauh ini masih sangat sedikit Pilkada yang dimenangkan oleh calon perseorangan? Pilkada justru banyak dimenangkan oleh calon yang didukung oleh partai politik atau gabungan partai politik. Dan sebagian besar calon yang didukung oleh partai politik dan menang tersebut adalah berasal dari pejabat yang sedang berkuasa (incumbent).
Namun ada beberapa sebab mengapa bakal calon perseorangan tumbang dalam Pemilukada. Pertama, jalur perseorangan selama ini hanya dijadikan jalur "keterpaksaan" oleh bakal calon Pemilukada. Jalur perseorangan terpaksa dipilih oleh bakal calon karena setelah menemui jalan buntu ketika loby-loby dan deal-deal politik gagal terlaksana. Dengan alasan itu, bakal calon yang gagal mendapatkan tiket pencalonan dari partai hanya punya dua pilihan, mundur atau maju melalui jalur perseorangan. Dan disadari atau tidak, kegagalan mendapatkan tiket pencalonan dari partai tersebut memiliki dampak psikologis pada bakal calon perseorangan. Yang pada gilirannya berpengaruh pada semangat bertanding dari bakal calon perseorangan
Kedua, jalur perseorangan selama ini lebih banyak dipakai oleh bakal calon yang kurang pontesial. Jalur perseorangan hanya diisi pemain "penggembira"saja.  Sementara pemain utama sudah dikontrak oleh partai-partai politik. Hal ini bisa dipahami, karena partai-partai yang memiliki tiket pencalonan tentu hanya memilih bakal calon yang memiliki peluang paling besar dalam memenangkan Pemilukada. Apalagi kini parpol sudah menggunakan instrumen survei untuk melihat siapa diantara bakal calon yang paling berpeluang memenangkan Pemilukada. Dengan instrumen survei itu, pemetaan politik di wilayah tersebut menjadi terang benderang dan dijadikan salah satu rujukan untuk mengatur strategi dan takti kemenengan.
Ketiga, adanya kesalahan strategi pemenangan yang diterapkan bakal calon perseorangan. Kesalahan strategi pemenangan ini sebenarnya tidak dimonopoli oleh bakal calon perseorangan saja, tapi banyak dilakukan oleh bakal calon dari partai politik. Yang paling mendasar dari kesalahan penggunaan strategi pemenangan bakal calon itu tidak memilik grand design strategi pemenangan. Misalnya, bakal calon perseorangan sering betarung hanya bermodalkan naluri dan asumsi. Mereka tidak menggunakan metode-metode ilmiah untuk mempengaruhi pemilih. Mereka juga tidak memiliki data peta politik yang valid, yang diperoleh secara ilmiah seperti survei di wilayah tertentu. Sehingga yang terjadi mereka seperti bertempur di tengah hutan tapi tidak mengenal medan pertempuranya. Padahal seperti yang dikatakan oleh Sun Tzu, tokoh klasik strategi perang, bahwa; "Kenali Diri Sendiri, Kenali Lawan, Maka Kemenangan Sudah Pasti Ada di Tangan. Kenali Medan Pertempuran, Kenali Iklim; Maka Kemenangan Akan Sempurna".
Oleh karena itu, sebenarnya bila grand design strategi pemenangan yang tepat, calon perseorangan memiliki kans yang besar untuk memenangkan Pemilukada. Karena berdasarkan pengalaman studi, perilaku pemilih di berbagai wilayah di Indonesia menunjukan pergeseran perilaku politik pemilih. Pemilih sekarang cenderung bersikap lebih otonom dari partai politik. Sikap politik pemilih tidak selalu sebangun dengan sikap politik elit partai politik. Bisa karena kebijakan parpol yang menyatakan mendukung calon si A tapi masyarakat tetap mendukung si B. Hal ini terbukti di berbagai Pemilukada dan Pemilu presiden di Indonesia. Calon yang didukung oleh partai besar ternyata keok oleh calon yang didukung oleh partai-partai gurem atau calon perseorangan.
Selain itu, biaya politik pencalonan melalui jalur perseorangan relatif lebih murah dibanding pencalonan menggunakan jalur partai. Logikanya, dengan semakin murahnya ongkos politik dalam proses pencalonan ini akan sedikit banyak menekan timbulnya korupsi dalam pemerintahan. Disisi lain, pemenang Pemilukada yang menggunakan jalur perseorangan tidak akan merasa tersandera oleh deal-deal politik dengan partai politik. Sehingga pejabat yang menang melalui jalur perseorangan, akan lebih merdeka dalam menyalurkan idealismenya dalam membangun wilayahnya. Dalam jangka panjang, dengan semakin banyaknya calon yang menang melalui jalur independen maka akan semakin meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia. ***

Sabtu, 09 Maret 2013

STRATEGI PILKADA



STRATEGI MOBILISASI
  • PEMBANGUNAN JARINGAN DAN ORGAN POLITIK
    Design Struktur tim sukses, Pembentukan tim sukses tingkat propinsi, kabupaten, kota kecamatan dan desa. Perluasan jaringan sosial.
  • PELATIHAN MANAJEMEN TIM SUKSES
    Pemahaman perilaku pemilih, organisasi tim sukses, media kampanye, targeting, penyusunan dan evaluasi program.
  • PENYUSUNAN PROGRAM PEMENANGAN
    Design program kunjungan, ceramah, aksi sosial, peresmian, kontrak politik, turnamen, pawai, hiburan, komunikasi tradisional, komunikasi multimedia dan alternatif.
  • PEMENUHAN PERSYARATAN PENCALONAN
    Dukungan partai politik, persyaratan administrasi KPU.
  • PEMBENTUKAN TIM KAMPANYE
  • PEMBENTUKAN TIM SAKSI
  • PEMBENTUKAN TIM MOBILISATOR
Tujuan :
  1. Membangun organisasi pemenangan pilkada yang efektif dan efisien.
  2. Mendesign kerangka kerja organisasi yang jelas dan terukur.
  3. Menentukan target-target pemenangan dan schedulenya
PEMETAAN POLITIK
1. Pemetaan Perilaku Pemilih
·         •Memetakan pemilih berdasarkan demografi dan preferensi politik

·         •Memetakan isu-isu strategis lokal

·         •Memetakan nama-nama yg berpotensi menjadi kawan dan lawan

·         •Memetakan media komunikasi yg efektif digunakan oleh pemilih
•Output:Strategi Mempengaruhi Perilaku Pemilih
2. Pemetaan Jaringan
·         •Inventarisir Jaringan yang potensial jadi mesin politik

·         •Memetakan wilayah dari masing2 jaringan

·         •Inventarisir Nama-nama yang memiliki potensi menjadi tim sukses
·         •Ouput:Strategi Mobilisasi 
3. Pemetaan Media Massa
·         •Menginventarisir semua media massa lokal

·         •Menganalisis Kecenderungan isi media

·         •Menjajaki kemungkinan kerja sama•Analisis media paling efektif
·         •Output:Strategi Pencitraan

Tujuan
1.      Membentuk citra diri Kandidat sesuai denganvisi, misi dan target pemilih
2.      menetukan media komunikasi politik yang efektif
3.      Mendesign Isi Komunikasi Poltik
4.      Mempengaruhi Isi liputan Media Masa